Blogger news

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Pages

Minggu, 01 April 2012

Contoh Surat Permohonan Mutasi Kerja Guru


Samarinda,  9 Maret 2012
No       : -
Lamp.  : -
Hal       : Permohonan


Kepada Yth.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Kabupaten Samarinda

di Samarinda



Dengan hormat,
Sesuai dengan anjuran Bupati Samarinda perihal pendekatan radius tempat bekerja dengan tempat tinggal bagi PNS di Wilayah hukum Kabupaten Samarinda.
Dengan ini saya mengajukan permohonan, dapatlah kiranya saya dipindah dari wilayah UPTD Dinas Dikbud Kecamatan Samarinda ke wilayah kerja UPTD Dinas Dikbud Kota Samarinda.
Permohonan ini  saya ajukan untuk peningkatan kesejahteraan dan kemudahan dalam melaksanakan kewajiban dalam proses Belajar Mengajar yang lebih efisien.
Demikian permohonan ini saya ajukan, atas perhatian dan terkabulnya  saya sampaikan terima kasih.




Hormat saya

Idham Sumirat

Model-Model Belajar


Model-Model Belajar

Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan, bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini, guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal, dan tidak sebaliknya.
Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran, baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. Dengan memahami model-model belajar ini, diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif.
Ada berbagai model belajar yang akan dibahas, yaitu:

1. Peta Pikiran
Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati, membaca, atau mendengar tentang sesuatu hal  berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep, kata kunci), tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Sebagai contoh, kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri, maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional, seperti gemuk, supir bajay, kocak, sederhana, atau ke tokoh lain Oneng, Ema, Ucup, Hindun, dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya, pejabatnya, dosen-dosen dan staf administrasi, dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan  peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi, meskipun dengan makna yang tidak berbeda.
Dalam bidang studi keahlian anda, misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika, Akuntansi, Agama, atau yang lainnya. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map).
Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. Yang produknya berupa peta konsep. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif  yang merupakan peta konsep, sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas, kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran, mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif, di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Mengingat hal itu, sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep, guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif.
Selanjutnya, Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal, setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri, misalnya berangan-angan, menonton, mengobrol atau bercanda tanpa makna. Bagaimana dengan anda?.

2. Kecerdasan Ganda
Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak, sebagai instrumen kecerdasan, terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan  bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain, jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif, misal kenakalan atau lamunan, inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon).
Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. Kondisi ini akan bisa dinetralisir  dengan relaksasi melalui penciptaan suasana  kondusif, misalnya keramahan, kelembutan, senyum-tertawa, suasana nyaman dan menyenangkan, atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan.
Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis, sekuensial, linier, rasional, teratur, verbal, realitas, ide, abstrak, dan simbolik. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak, intuitif, holistic, emosional, kesadaran diri, spasial, musik, dan kreativitas. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%, siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya.
Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga, yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan beragama. Sebagai orang beragama, kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini, bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir, ada do’a sebagai permintaan dan harapan, dan ibadah lainnya. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini.
Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill, yaitu Spacial-visual , Linguistic-verbal, Interpersonal-communication, Musical-rithmic, natural, Body-kinestic, Intrapersonal-reflective, Logic-thinking-reasoning.
3.Metakognitif
Secara harfiah, metakognitif  bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir, berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya,  yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi.
Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan, tergantung dari variabel meta kognitif, yaitu kondisi individu, kompleksitas, pengetahuan, pengalaman, manfaat, dan strategi berpikir. Holler, dkk. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu, monitoring, dan regulasi.
Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7, yaitu: refleksi kognitif, strategi, prediksi, koneksi, pertanyaan, bantuan, dan aplikasi. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif, yaitu: kesadaran, monitoring, dan regulasi.
Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis, sintesis, dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini, tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal.

4. Komunikasi
Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa, siswa dengan fasilitas belajar, ataupun dengan guru. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya, ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif.
Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992), untuk kita simak dan renungkan,  bahwa seorang anak ayang masih polos-natural, setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. Akibatnya sungguh mengejutkan, anak yang pada awalnya secara alami penuh keyakinan, keberanian, suka tantangan, ingin mencoba, ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang  lebih dominant dari orang sekelilingnya, ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun, sehingga dia tumbuh menjadi penakut, pemalu, ragu-ragu, menghindar, membiarkan, dan cemas. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah, belajar menjadi  beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. Makin lama ia makin dewasa, pribadinya berpola negative, seperti pesimis, m\udah menyerah, dikendalikan keadaan , prasangka, pembenaran, menimpakan kesalahan, dan sibuk dengan alasan. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif, yaitu optimis, mengendalikan keadaan, ada kebebasan memilih, punya alternative, partisipatidf, dan mau memperbaiki diri.
Sebagai guru, tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis, katakana “saya ….” bukan katanya, jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan, tumbuhkan citra positif, bersikap mengajak dan bukan memerintah, dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah, nada suara, gerak tubuh, dan sosok panutan). Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa, yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran.

5. Kebermaknaan Belajar
Dalam belajar apapun, belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. Agar bermakna, belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi).
Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi,presentasi). Mencoba-pek (menyelidiki, meng-identifikasi, menduga, menyimpulkan, menemukan), dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan, menggunakan, memanfaatkan, mengembangkan).  Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya), ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk), tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). Dengan perkataan lain, pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006, dan bukan dengan kegiatan mengajar.
Selanjutnya, Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%, dari mendengar 20%, dari melihat 30%, mendengar dan melihat 50%, mengatakan-komunikasi mencapai 70 %, da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%.
Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal, tidak cukuop dengan mendengar dan melihat, tepai harus dengan hands-on, minds-on, konstruksivis, dan daily life (kontekstual).

6. Konstruksivisme
Dalam paradigma pembelajaran, guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, berhipotesis, berkonjektur, menggeneralisasi, dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara guru-siswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan), melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi.
Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya, tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. Mungkin saja kemasannya tidak akurat, siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda, atau mungkin terjadi eksalahan, di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar, jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar, ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran.
Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran, dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme, karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal, Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism), yaitu: konsistensi internal, keterpaduan, kekonvergenan, refeleksi-eksplanasi, kontinuitas historical, simbolisasi, koherensi, tindak lanjut, justifikasi, dan sintaks (SOP).

7. Prinsip Belajar Aktif
Ada dua jenis belajar, yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi, menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat, berupaya terlaksana, dan partisipatif dalam setiap kegiatan. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart, mengabaikan kesempatan, membiarkan segalanya terjadi, menghindar dari kegiatan.
Dari indikator belajar aktif, sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas, maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek, belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang, seperti kemampuan sosialisasi, empati dan pengendalian diri.     Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok,diskusi, presentasi, tanya-jawab, sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri.
Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan, mengerjakan), structuralistic (terstrutur, sitematik, aksionmatik), empiristic (pngelaman induktif-deduktif), dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional, kontekstual-trealistik, konstruksivis-inkuiri, melakukan-mengkomunikasikan, dan inklusif life skill.

TUKARAN LINK
teman-teman yang mau tukaran link dengan web ini silahkan e-mail ke muhammadfirdaus30@gmail.com, dengan Subjek "TUKARAN LINK 2010 ", dengan syarat alamat http://www.muhfida.com telah anda letakkan terlebih dahulu di web/blog anda.

KTSP


Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP.
Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memuat:
  • kerangka dasar dan struktur kurikulum,
  • beban belajar,
  • kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan di tingkat satuan pendidikan, dan
  • kalender pendidikan.
SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran. Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.
Pemberlakuan KTSP, sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL, ditetapkan oleh kepala sekolah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah. Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional. Penyusunan KTSP selain melibatkan guru dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila perlu para ahli dari perguruan tinggi setempat. Dengan keterlibatan komite sekolah dalam penyusunan KTSP maka KTSP yang disusun akan sesuai dengan aspirasi masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

RPP Bahasa Indo Kelas VI oleh : Bapak saya


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran                :  Bahasa Indonesia
Kelas / Sumber                :  VI / I
Pertemuan ke                  :  I ( Satu ).
Alokasi Waktu                : 2 x 35 menit ( 1 kali pertemuan ).
Standar Kompetensi        : MENDENGARKAN.
Memahami teks dan cerita anak yang dibaca.
Kompetensi Dasar           : Menulis hal – hal penting / pokok dari suatu teks yangdi bacakan.
Indikator                         : 1. Mencatat pokok – pokok isi teks yang dibacakan.
2. Menuliskan pokok – pokok isi teks ke dalam beberapa kalimat.

I.       Tujuan Pembelajaran
-          Siswa dapat mencatat pokok – pokok isi teks yang di bacakan dengan benar.
-          Siswa dapat menuliskan pokok – pokok isi teks ke dalam beberapa kalimat dengan tepat.
II.     Materi pokok           : Teks bacaan cerita anak ( sesuaikan dengan buku yang ada )
III.   Metode                     : Diskusi, Tanya jawab, ceramah, tugas.
IV.  Langkah – langkah Pembelajaran
  1. Kegiatan Awal
·   Guru bertanya tentang cerita yang pernah didengar anak.
·   Guru bertanya tentang isi pokok – pokok cerita yang didengar salah satu anak.
  1. Kegiatan inti
·   Siswa mendengarkan teks yang dibaca oleh guru.
·   Siswa mendiskusikan pokok – pokok isi teks / cerita.
·   Guru menugaskan siswa mencatat pokok – pokok isi teks.
·   Guru menugaskan siswa menuliskan pokok – pokok isi teks ke dalam beberapa kalimat.
·   Siswa dan guru Tanya jawab tentang kalimat – kalimat yang di tulis siswa supaya kalimat menjadi benar.

  1. Kegiatan Akhir
  • Guru dan siswa merefleksikan hasil pembelajaran dan membuat kesimpulan atau penguatan.
  • Siswa menjawab soal – soal .
  • Menempelkan hasil pekerjaan siswa untuk dijadikan pajangan di kelas.
V.     Alat dan Sumber Belajar
        Buku teks Terampil Berbahasa Indonesia kelas 6 ( Bengawan Umu ) hal 60 – 67
        Buku teks lain yang sesuai.
VI.  Penilaian
  1. Kognitif : Teks tertulis / lesan.
No
Butir – butir soal
Kunci jawaban
1.
2.

Tuliskan pokok – pokok sisi suatu cerita ( dari guru )
Tuliskan beberapa kalimat dari pokok – pokok isi cerita diatas.
Kebijaksanaan guru.
Kebijaksanaan guru.























  1. Lembar pengamatan / afektif ( Diamati saat kerja kelompok / KBM )
No
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Skor Nilai
Keberanian
Kerjasama
Tanggung Jawab










  1. Psikomotorik : Lembar Portofolio
Tuliskan beberapa kalimat dari cerita yang dibacakan temanmu !
 
 



Sudungdewo,

Mengetahui
Kepala Sekolah



Guru Kelas

PURWOTO, S.Pd.
NIP. 19620110 198201 1 004
PRIYONO, S.Pd.
NIP. 19700820 200501 1 010



































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran                :  Bahasa Indonesia
Kelas / Sumber                :  VI / I
Pertemuan ke                  :  2 ( Dua ).
Alokasi Waktu                :  3 x 35 menit ( 1 kali pertemuan ).
Standar Kompetensi        :  MENDENGARKAN.
  Memahami teks dan cerita anak yang dibaca.
Kompetensi Dasar           :  Menulis hal – hal penting / pokok dari suatu teks yang dibacakan.
Indikator                         :  1. Menulis ringkasan isi teks.

I.       Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat menuliskan ringkasan isi teks dengan tepat.
II.    Materi pokok           : Teks bacaan cerita anak.
III. Metode                     : Diskusi, Tanya jawab, Ceramah, Tugas.
IV.  Langkah – langkah Pembelajaran
  1. Kegiatan Awal
-    Guru bertanya tentang cerita yang didengar anak.
-    Guru menanyakan isi cerita yang didengar anak.
  1. Kegiatan Inti
-    Siswa mendengarkan teks yang dibaca oleh guru.
-    Siswa mendiskusikan pokok – pokok isi teks / cerita
-    Siswa menuliskan pokok – pokok isi teks ke dalam beberapa kalimat.
-    Siswa mengembangkan kalimat – kalimat tersebut menjadi beberapa paragraph sehingga menjadi ringkasan isi teks.
  1. Kegiatan Akhir
-    Guru dan siswa merefleksikan hasil pembelajaran dan membuat kesimpulan atau penguatan.
-    Siswa mengerjakan soal – soal latihan.
-    Menempelkan hasil pekerjaan siswa untuk dijadikan pajangan di kelas.
V.     Alat dan Sumber Belajar
-          Buku teks Terampil Berbahasa Indonesia kls 6 ( Bengawan Ilmu ) hal 60 – 62.
-          Buku teks lain yang sesuai.
VI.  Penilaian
  1. Kognitif : Teks tertulis / lesan
No
Butir – butir soal ( dari teks bacaan )
Kunci Jawaban






























  1. Lembar pengamatan / afektif ( diamati saat kerja kelompok / KBM )
No
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Skor Nilai
Keberanian
Kerjasama
Tanggung Jawab









Keterangan : Keberanian = 10 – 40 ; Kerjasama = 10 – 30 ; Tanggung Jawab ; 10 - 30

  1. Psikomotorik
Tuliskan ringkasan isi teks / cerita yang kamu dengar !
 
 






                                                                        Sudungdewo,…………………………..

Mengetahui
Kepala Sekolah



Guru Kelas

PURWOTO, S.Pd.
NIP. 19620110 198201 1 004
PRIYONO, S.Pd.
NIP. 19700820 200501 1 010
































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran                :  Bahasa Indonesia
Kelas / Sumber                :  VI / I
Pertemuan ke                  :  3 ( Tiga ).
Alokasi Waktu                :  2 x 35 menit ( 1 kali pertemuan ).
Standar Kompetensi        :  BERBICARA.
Memberikan informasi dan tanggapan secara lesan.
Kompetensi Dasar           : Menyampaikan pesan / informasi yang diperoleh dari berbagai media dengan bahasa yang runtut, naik dan benar.
Indikator                         : 1. Mencatat pokok – pokok informasi yang disampaikan oleh beberapa teman.

I.       Tujuan Pembelajaran
-          Siswa dapat mencatat pokok – pokok informasi yang akan disampaikan dengan bahasa yang runtut, baik dan benar.

II.    Materi pokok  :  - Teks bacaan yang digunting atau diambil dari koran.
                                 - Teks bacaan pada buku yang sesuai.
III. Metode            : Diskusi, Tanya jawab, Ceramah, Tugas.
IV.  Langkah – langkah Pembelajaran
  1. Kegiatan Awal
·   Guru bertanya tentang pesan yang disampaikan ibu sebelum berangkat sekolah.
·   Guru bertanya pada beberapa siswa tentang sesn masing – masing ibunya sebelumberangkat sekolah.
·   Guru menanyakan hal lain yang berhubungan dengan pesan atau informasi mis dari televise atau radio.

  1. Kegiatan Inti
·   Siswa mendengarkan pesan / informasi yang disampaikan oleh beberapa teman.
·   Siswa mendiskusikan pesan / informasi yang disampaikan oleh teman dengan kelompoknya.
·   Siswa mencatat pokok – pokok informasi yang disampaikan oleh beberapa teman.
·   Guru memberi penguatan.
  1. Kegiatan Akhir
·   Guru / siswa merefleksikan hasil pembelajarannya dan membuat kesimpulan.
·   Siswa menuliskan rangkuman materi
·   Siswa mengerjakan soal
·   Menempelkan hasil pekerjaan siswa untuk dijadikan pajangan di kelas.
V.     Alat dan Sumber Belajar
-          Buku teks
-          Koran / Majalah
VI.  Penilaian

  1. Kognitif : Tes Tertulis                                                  Nilai : ……………
No
Butir – butir soal
Kunci Jawaban
1.
Tuliskan 5 pokok pesan yang disampaikan teman pada kegiatan pembelajaran
Kebijaksanaan guru




















  1. Lembar Pengamatan / afektif  ( diamati saat kerja kelompok / KBM )
No
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Skor Nilai
Keberanian
Kerjasama
Tanggung Jawab








Keterangan : Keberanian = 10 – 40 ; Kerjasama = 10 – 30 ; Tanggung Jawab ; 10 - 30


  1. Psikomotorik
Lembar Tugas
Tuliskan pokok – pokok pesan yang disampaikan teman !
 
 






                                                                                    Sudungdewo,…………………………..


Mengetahui
Kepala Sekolah



Guru Kelas

PURWOTO, S.Pd.
NIP. 19620110 198201 1 004
PRIYONO, S.Pd.
NIP. 19700820 200501 1 010




































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran                :  Bahasa Indonesia
Kelas / Sumber                :  VI / I
Pertemuan ke                  :  4 ( Empat ).
Alokasi Waktu                :  3 x 35 menit ( 1 kali pertemuan ).
Standar Kompetensi        :  BERBICARA.
                                          Memberikan informasi dan tanggapan secara lesan.
Kompetensi Dasar           :  Menyampaikan pesan / informasi yang diperolah dari berbagai media dengan bahasa runtut baik dan benar.
Indikator                         :  Menyampaikan ( secara lisan ) informasi yang telah di sampaikan oleh beberapa teman dengan bahasa yang runtut, baik dan benar.

I.       Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat menyampaikan ( secara lisan ) informasi yang telah disampaikan oleh beberapa teman dengan bahasa yang runtut, baik dan benar.

II.    Materi pokok           : - Teks bacaan yang digunting atau diambil dari Koran
                                         - Teks bacaan pada buku yang sesuai
III. Metode                     : Diskusi, Tanya Jawab, tugs, Ceramah
IV.  Langkah – langkah pembelajaran
  1. Kegiatan awal
-          Guru bertanya tentang pesan yang pernah diterima anak.
-          Guru menanyakan hal lain yang berhubungan dengan pesan atau informasi misalnya dari televisi atau radio.

  1. Kegiatan inti
-          Siswa mendengarkan pesan / informasi yang disampaikan oleh beberapa teman.
-          Siswa mendiskusikan pesan / informasi yang disampaikan oleh teman dengan kelompoknya.
-          Siswa mencatat pokok – pokok informasi yang disampaikan oleh beberapa teman.
-          Siswa menyampaikan isi pesan ( secara Lisan ) yang telah disampaikan teman.
  1. Kegiatan akhir
-          Guru / siswa merefleksikan hasil pembelajaran dan membuat kesimpulan.
-          Siswa menulis rangkuman materi
-          Siswa mengerjakan soal
-          Menempelkan hasil pekerjaan siswa untuk dijadikan pajangan dikelas.
V.     Alat dan sumber Belajar
-          Buku teks yang sesuai
-          Koran / Majalah
VI.  Penilaian
  1. kognitif : Tes tertulis / lesan                                                     Nilai : ……………….
No
Butir – butir soal
Kunci jawaban

Sampaikan isi pesan dari temanmu
Kebijaksanaan guru






















  1. Lembar pengamatan / afektif ( diamati saat kerja kelompok / KBM )
No
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Skor Nilai
Keberanian
Kerjasama
Tanggung Jawab








Keterangan : Keberanian = 10 – 40 ; Kerjasama = 10 – 30 ; Tanggung Jawab ; 10 - 30

  1. Psikomotorik
Lembar tugas
Tuliskan pokok – pokok pesan yang disampaikan teman !
 
 




                                                                                    Sudungdewo,…………………………..


Mengetahui
Kepala Sekolah



Guru Kelas

PURWOTO, S.Pd.
NIP. 19620110 198201 1 004
PRIYONO, S.Pd.
NIP. 19700820 200501 1 010









































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran                :  Bahasa Indonesia
Kelas / Sumber                :  VI / I
Pertemuan ke                  :  5 ( Lima ).
Alokasi Waktu                :  3 x 35 menit ( 1 kali pertemuan ).
Standar Kompetensi        :  MEMBACA.
                                          Memahami teks dengan membaca intensif dan membaca sekilas.
Kompetensi Dasar           :  Mendiskripsikan isi dan tekhnik penyajian suatu laporan hasil pengamatan / kunjungan.
Indikator                         :  1. Mencatat pokok – pokok isi laporan hasil pengamatan.
                                          2. Menjelaskan isi laporan kepada orang lain secara sistimatis.

I.       Tujuan Pembelajaran
-    Siswa dapat mencatat pokok – pokok isi laporan hasil pengamatan dengan tepat.
-    Siswa dapat menjelaskan isi laporan kepada orang lain secara sistimatis.
II.    Materi Pokok           : Teks laporan hasil pengamatan / kunjungan.
III. Metode                     : Diskusi, ceramah, Tanya jawab.
IV.  Langkah – langkah pembelajaran
  1. Kegiatan Awal
·   Guru bertanya tentang tempat – tempat yang pernah dikunjungi siswa.
·   Guru bertanya hal lain yang berhubungan dengan tempat yang dikunjungi siswa.
  1. Kegiatan Inti
·   Siswa membaca teks laporan hasil pengamatan / kunjungan.
·   Guru menjelaskan siswa mencatat pokok – pokok isi laporan hasil pengamatan.
·   Siswa mendiskusikan isi dan teknik penyajian suatu laporan pengamatan / kunjungan.
·   Siswa mengidentifikasi isi dan teknik laporan hasil pengamatan / kunjungan.
·   Siswa menjelaskan isi laporan yang dibaca dengan bahasa yang komunikatif.
  1. Kegiatan Akhir
1.Guru / siswa merefleksikan hasil pelajarannya dan membuat kesimpulan atau penguatan.
2.Siswa menulis rangkuman materi.
3.Siswa mengerjakan soal – soal.
4.Menempelkan hasil pekerjaan siswa untuk dijadikan pajangan dikelas.
V.     Alat dan sumber belajar
-    Contoh laporan pengamatan / kunjungan.
-    Buku teks terampil Berbahasa Indonesia kls 6 ( Bengawan Ilmu ) hal 43 – 45
-    Buku lain yang sesuai.
VI.  Penilaian

A.     Kognitif : Tes tertulis / lesan                                                          Nilai : ……………….
No
Butir – butir soal
Kunci jawaban
1.

2.
Tuliskan pokok – pokok isi laporan yang kamu baca !
Buatlah 2 kalimat tentang isi laporan yang telah dibaca 1
Kebijaksanaan guru

Kebijaksanaan guru

















B.     Lembar pengamatan / afektif ( diamati saat kerja kelompok / KBM )
No
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Skor Nilai
Keberanian
Kerjasama
Tanggung Jawab








Keterangan : Keberanian = 10 – 40 ; Kerjasama = 10 – 30 ; Tanggung Jawab ; 10 - 30

C.  Portofolio / kinerja
Lembar tugas
Tuliskan isi laporan hasil pengamatan dari bacaan yang kamu baca dengan bahasa yang sistimatis !
 
 





                                                                        Sudungdewo,…………………………..

Mengetahui
Kepala Sekolah



Guru Kelas

PURWOTO, S.Pd.
NIP. 19620110 198201 1 004
PRIYONO, S.Pd.
NIP. 19700820 200501 1 010









































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran                :  Bahasa Indonesia
Kelas / Sumber                :  VI / I
Pertemuan ke                  :  6 ( Enam ).
Alokasi Waktu                :  2 x 35 menit ( 1 kali pertemuan ).
Standar Kompetensi        :  MEMBACA.
                                          Memahami teks dengan membaca intensif dan membaca sekilas.
Kompetensi Dasar           :  Mendiskripsikan isi dan tekhnik penyajian suatu laporan hasil pengamatan / kunjungan.
Indikator                         :  Menyebarkan teknik penyajian suatu laporan pengamatan / kunjungan.

I.       Tujuan pembelajaran
- Siswa dapat menyebarkan tekhik penyajian suatu laporan pengamatan / kunjungan.
II.    Materi Pokok           : Teks laporan hasil pengamatan / kunjungan.
III. Metode                     : Diskusi, Ceramah, Tanya Jawab, Tugas
IV.  Langkah – langkah pembelajaran
  1. Kegiatan Awal
-    Guru bertanya tentang tempat – tempat yang pernah dikunjungi siswa
-    Guru bertanya hal lain yang berhubungan dengan tempat yang dikunjungi siswa.